Doa untuk Orang Tua — Rabbirhamhumā
Asal doa ini
Doa ini adalah bagian dari Surah Al-Isra' ayat 24, dan sebelum menjadi doa ia adalah perintah: ayat tersebut melarang mengucapkan "ah" kepada orang tua dan menyuruh merendahkan diri kepada keduanya dengan penuh kasih, lalu memerintahkan kalimat ini diucapkan. Susunan kalimatnya berupa perbandingan — "sebagaimana": seseorang mengukur rahmat yang ia mohonkan untuk orang tuanya dengan pengasuhan yang dahulu ia terima. Jadi doa ini sekaligus sebuah pengingat. Membacanya selagi orang tua masih hidup adalah bagian dari bakti; membacanya setelah mereka wafat adalah bagian dari tanggung jawab anak yang terus berlanjut. Hadis "apabila manusia meninggal, terputuslah amalnya kecuali tiga perkara" (Muslim 1631) menyebut salah satunya anak saleh yang mendoakannya, dan doa inilah yang paling dekat dengan gambaran itu. Di Indonesia lafal ini biasanya dibaca dalam rangkaian yang lebih panjang: "Rabbighfir lī wa liwālidayya warḥamhumā kamā rabbayānī ṣaghīrā" — memohon ampun untuk diri sendiri dan kedua orang tua, lalu rahmat untuk keduanya. Tambahan permohonan ampun itu diambil dari ayat lain (Nuh 71:28); yang dicantumkan di atas adalah lafal Al-Isra' sebagaimana sumbernya.
Kapan dibaca
Kapan saja; terutama selepas salat, ketika teringat orang tua, dan saat berziarah ke makam orang tua yang telah wafat.