Sayyidul Istighfar — Penghulu Istighfar
Asal doa ini
Nama "sayyidul istighfar" — penghulu segala istighfar — diberikan oleh Rasulullah ﷺ sendiri, dalam hadis Syaddad bin Aus radhiyallahu 'anhu yang diriwayatkan Al-Bukhari; beliau mengajarkan lafalnya lalu menjelaskan keutamaan membacanya pagi dan petang. Yang membedakannya dari lafal istighfar lain adalah bahwa doa ini lebih mirip gambaran sebuah hubungan daripada sekadar permintaan maaf. Seorang hamba lebih dulu mengakui Tuhannya, lalu kedudukannya sendiri sebagai hamba, lalu mengingat janji yang ia pegang "semampuku", lalu berlindung dari keburukan perbuatannya, lalu meletakkan pengakuan atas nikmat dan pengakuan atas dosa berdampingan — dan baru setelah semua itu ia memohon ampun, disertai alasannya: karena tidak ada yang mengampuni dosa selain Engkau. Di Indonesia doa ini banyak dibaca dalam wirid selepas salat Subuh dan Magrib dan diajarkan di pesantren sejak dini. Sekilas lafalnya panjang, tetapi kalimat-kalimatnya mengalir dalam urutan yang logis, sehingga bila dihafal bersama maknanya biasanya melekat dalam beberapa hari. Membacanya tanpa memahami arti tetap boleh, namun hadis menekankan membacanya "dengan yakin", dan pemahamanlah yang mengantar ke sana.
Kapan dibaca
Pagi dan petang sebagai bagian dari zikir harian. Dalam hadis disebutkan: siapa yang membacanya di siang hari dengan yakin lalu wafat sebelum sore, atau di malam hari lalu wafat sebelum pagi, ia termasuk penghuni surga.